NAMA BAIK


Alkisah pada suatu ketika, Angin, Air dan Nama Baik sedang mengadakan perjalanan bersama-sama.

Angin, biasa datang terburu-buru seperti orang yang sedang marah. Bisa melompat di sini dan menendang debu di sana.

Air berjalan dalam bentuk seorang putri. Ia selalu membawa kendi ditangannya, meneteskan beberapa air di atas tanah sekitarya.

Nama Baik berwujud dalam seorang pemuda yang tampan dengan sikap-sikap yang baik, namun sedikit pemalu.

Mereka saling menyukai, meskipun mereka sangat berbeda satu sama lain. Ketika mereka harus berpisah, mereka bertanya, "Kapan kita bisa bertemu untuk mengadakan perjalanan yang lain lagi?"

Angin menjawab, "Engkau akan selalu menemukan aku di puncak gunung-gunung atau melompat-lompat di sekitar kakimu. Meniup debu ke mana kamu pergi."

Air berkata, "Aku juga akan selalu ada disekitarmu. Kamu bisa pergi ke laut atau sungai, bahkan ke dapur, untuk menemuiku."

Nama Baik tidak mengatakan apa-apa. Angin dan Air bertanya, "Nama Baik, kapan dan dimana kita akan bertemu lagi?"

Nama Baik menjawab, "Kamu tidak akan bertemu aku lagi di manapun. Siapapun yang telah kehilangan aku sekali saja, takkan pernah bisa mendapatkan aku lagi."

Mengapakau Tidak Mempercayaiku?

Ada satu kebiasaan yang disukai Musa dengan kotanya, Serang. Bahwa di sana senimannya kompak. Setiap tiga bulan sekali para seniman sering tampil di alun-alun kota. Yang pelukis mengadakan pameran lukisan, begitu juga dengan seniman lainnya. Mereka mempertontonkan kemampuan seninya. Biasanya acara dipusatkan pada malam hari. Masyarakat Serang tentu saja sangat senang dengan kenyataan ini. Orang tua, muda-mudi, menghabiskan sebagian malamnya di alun-alun kota.
Besok adalah hari Minggu, di mana pertunjukan kesenian tiga bulanan itu akan dilaksanakan. Sejak pagi sabtu ini, alun-alun sudah dirias. Belasan orang tampak menyiapkan lukisan-lukisannya untuk dipamerkan. Begitu juga dengan panggung, sudah diset. Sebagian masyarakat sudah pada berdatangan. Mereka begitu asyik dengan kebudayaan ini.
Musa, seorang anak SMA yang bangga kepada kotanya ini merogoh sakunya. Handphone-nya bergetar. Ia tatap monitornya, Tyka memanggil. Lalu handphone tersebut didekatkan ke telinga.
“Hallo, Tyka!”
“Ya, aku!” jawab Tyka. “Eh Musa, kamu jadikan ngajak aku malam ini nonton di alun-alun?”
Musa tidak menjawab.
“Tadi pagi aku sempat lewat ke alun-alun, lho. Rame banget. Kayaknya malam ini acaranya akan bagus.”
“Ya, aku juga tahu. Sekarang aku ada di alun-alun.”
“Yang bener?”
“Iya.”
“Tapi kamu kan janji mau ngajak aku nonton?”
“Mmm, gimana ya? Aku dengar Mama kamu sedang sakit. Terus Papa sedang tidak ada.”
“Iya sih.”
“Terus kalau kamu jadi nonton bareng aku, yang ngejagain Mama siapa?”
“Gak ada. Tapi mama sudah ngizinin, kok.”
“Ngizinin sih ngizinin. Tapi yang ngejagain siapa? Kalau ada apa-apa bagaimana?”
“Kata Mama, sakit Mama tidak parah. Mama masih bisa ngambil obat sendiri.”
Pembicaraan mereka agak lama terhenti. Lalu Musa bicara lagi. “Kalau boleh aku ngusulin, kamu nggak usah nonton deh. Sayang sama Mama nggak ada yang ngerawat….”
“Kok kamu begitu sih. Kamukan udah janji sama aku.”
“Iya, aku emang sudah janji. Tapi sekarang kondisinya berubah.”
“Nggak mau, aku pengen nonton. Kamu tidak boleh ingkar janji. Kamu udah janji abis magrib mau jemput aku.”
“Maaf Tyka. Aku tidak bisa. Kamu harus ngejagain Mama.”
“Kata Mama, nggak apa-apa ditinggalin, aku boleh nonton.”
“Nggak, kamu nggak boleh nonton. Kamu harus sayang sama Mama. Aku sendiri tidak akan ngejemput kamu. Aku akan nonton sendirian saja.”
“Bodo! Kamu nggak jemput, aku akan datang sendiri.”
“Aku bilang, kamu jangan nonton. Kamu harus jagain mama!”
Klik, Musa langsung menekan tombol ‘no’. Tombol tersebut ia tekan beberapa lama hingga HP-nya tidak aktif.
Musa membuktikan kata-katanya. Janjinya untuk menjemput Tyka ia batalkan. Beberapa kali panggilan Tyka tidak diangkatnya. Beberapa SMS Tyka masuk. Musa membacanya. Tapi tak satupun yang dibalasnya.
Malam itu Musa jalan sendiri dari rumahnya yang tidak terlalu jauh dari alun-alun. Yang ditujunya tidak ada tempat lain selain alun-alun. Selain dirinya, ratusan orang bergerak ke sana. Mereka tentu akan menikmati tontonan tiga bulanan ini. Di sana ada pameran lukisan, pentas teater, pertunjukan wayang golek, dan lain sebagainya. Semua dilaksanakan serempak. Setiap orang dipersilakan memilih pertunjukan yang disukainya.
Karena acara dimulai pukul delapan, sementara sekaran baru pukul enam tiga puluh, Musa memanfaatkan waktu yang ada dengan melihat-lihat pameran lukisan. Meskipun dia tidak bisa melukis, tapi dia sangat suka. Lukisan demi lukisan diperhatikannya. Nama pelukis dan harga yang tertera pada lukisan tidak luput diperhatikannya. Kalau saja murah dia pasti membelinya. Ini harganya puluhan juta, Bro!
Musa terus bergerak perlahan, dari satu lukisan ke lukisan berikutnya. Brosur yang kebetulan disediakan juga diambilnya. Tapi tidak dibacanya. brosur itu dimasukan ke kantong jaketnya. Dibacanya nanti saja. Sekarang acaranya menikmati lukisan-lukisan ini.
Sampai di satu lukisan, Musa kembali terdiam. Di sampingnya seorang gadis juga sedang mengagumi lukisan itu. Musa memperhatikan gadis tersebut. Perasaan dia pernah melihatnya. Tanpa sengaja gadis yang diperhatikannya menatap Musa. Musa jadi tidak enak.
“Maaf, kakak namanya Musa kan?”
Mendengar sapaan itu, Musa merasa nyaman. “Iya, namaku Musa. Perasaan aku pernah lihat kamu.”
“Masak Kakak sudah lupa aku. Aku Laela, adik kelas Kakak!”
Musa masih tampak berfikir.
“Kakak bener-bener lupa atau pura-pura nih. Inget nggak seminggu yang lalu, di depan gerbang sekolah kita kenalan?”
“Oo, iya, iya. Aku inget.” Musa tersenyum. “Kamu sendirian?” tanya Musa kemudian.
“Iya nih. Habis belum punya pacar sih. He he he. Kakak sendirian juga?”
“Iya!”
“Pacar Kakak ke mana?”
“Lagi ngejagain Mamanya.”
“Emang Mamanya kenapa?”
“Sakit.”
“Oo…”
Tiba-tiba HP Musa berbunyi. Sebuah SMS masuk. Musa membacanya. SMS tersebut dari Mamanya Tyka: Musa, mama minta tolong Tyka suruh pulang. sakit mama kayaknya kambuh. Tolong Sayang ya?
Musa jadi tercenung. Berarti Tyka membuktikan kata-katanya, bahwa dirinya akan tetap nonton sekalipun Mamanya sedang sakit. Ada perasaan kecewa dalam hati Musa, kenapa kekasihnya tidak menuruti usulannya. Sekarang dia tidak tahu Tyka posisinya ada di mana. Alun-alun kota ini sendiri luas. Musa juga yakin Mamanya Tyka sudah menghubungi Tyka. Tapi tidak nyambung. Akhirnya yang dilakukan Musa adalah membalas SMS itu. “Mah, sya tdk nnton bareng Tyka. Tadi sore sdh sya blng ke Tyka agr jga ma2. Tapi klo Tyka emng nnton, sya akn mncarinya.”
Musa lantas menatap Laela. “Acaranya banyak, kamu mau nonton apa?”
“Aku pengen nonton wayang golek. Kakak mau nonton apa?”
“Aku belum tahu. Mungkin wayang golek juga.”
“Kalau begitu kita jalan bareng aja yuk?”
Musa mengangguk. Keduanya lalu pergi meninggalkan ruang pameran. Sekalian mencari Tyka, batinnya. Setelah membalas SMS ke Mamanya Tyka, tadi Musa juga mengirim SMS ke Tyka memberi tahu agar dirinya pulang. Terus Musa juga nanya di mana posisi Tyka. Tapi SMS itu malah pending.
Bulan di sebelah timur bulat. Ukurannya besar. Langit tampak jernih, tidak ada mendung di sana. Awan putih tampak seperti kapas yang terhampar. Betul-betul indah. Sementara di alun-alun orang-orang sudah banyak. Ada yang berjalan, ada juga yang duduk-duduk di atas koran atau tikar. Orang-orang ini tersebar mengelilingi masing-masing pertunjukan yang disukainya.
Tiba di dekat panggung wayang golek, Musa dan Laela berhenti sebentar.
“Kakak bener mau nonton wayang golek? Kalau nggak, nggak apa-apa aku ditinggalin.”
“Aku belum tahu mau nonton yang mana. Kayaknya semuanya rame. Tapi untuk sementara, bolehlah kita nonton wayang golek dulu.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau nontonnya bagian depan?”
Musa mengangguk. Keduanya kembali pindah. Tidak jauh di depan panggung mereka duduk di tanah tanpa alas. Bunyi gong dan calung sudah terdengar, meskipun pertunjukan belum dimulai.
“Kamu mau makan apa?” tanya Musa. Kebetulan tidak jauh dari mereka ada yang jualan jagung dan kacang rebus.
“Mau nraktir nih ceritanya? Apa aja deh.”
Lalu Musa pesan dua jagung dan satu bungkus kacang rebus. Sambil menunggu pertunjukan dimulai, mereka terus ngobrol sambil menikmati jagung dan kecang rebusan yang baru saja dipesannya.
Setelah agak lama, pertunjukan wayang golekpun dimulai. Dan Musa memutuskan untuk menontonnya bareng dengan Laela. Beberapa menit kemudian, pandangan musa terhalang oleh orang yang berdiri di depannya. Musa merasa terganggung.
“Maaf yang berdiri tolong duduk!” teriak Musa.
Yang berdiri di depan Musa melirik. Dia merasa kenal dengan suara yang menyuruhnya. Begitu berbalik, yang kaget tidak hanya dirinya, melainkan juga Musa.
Gadis yang tadi menghalangi pemandangan Musa menghampiri. “Jadi kamu ngelarang aku nonton karena udah punya janji dengan pacar baru kamu?” tanya Tyka marah.
“Tyka, dengar dulu. Pacar aku itu hanya kamu.”
“Bo’ong! Buktinya dia.”
“Ya ampun, Tyka. Tidak boleh cepat menuduh. Kamu tahu dia siapa? Dia itu adik kelas aku. Aku saja baru kenal satu minggu ini.”
“Aku tidak mau tahu. Yang pasti kamu sudah nyakitiin aku. Kamu udah janji sama aku, kamu malah mengingkarinya. Kamu malah nonton dengan gadis lain. Kamu malah membiarkan aku nonton sendirian!”
“Tyka, dengar aku dulu. Pacar aku itu hanya kamu!”
“Kalau begitu kenapa kamu nonton bareng dia?!”
“Kebetulan aku ketemu di sini. Aku tinggalkan dia sekarang juga, dia tidak merasa ada masalah.”
“Lalu kenapa kamu tidak jadi ngajak aku nonton?”
“Tyka, Mama kamu kan sedang sakit.”
“Aku kan sudah bilang kalau Mama udah ngizinin!”
“Kamu tidak tahu Mama kamu ngubungin aku. Kamu katanya harus pulang. Coba buka HP kamu. Pasti SMS udah numpuk di sana. Aku juga udah kabari kamu kalau Mama kamu nyuruh kamu pulang!”
“HP-nya nggak aku bawa!”
Musa menghela nafas. “Kalau begitu, ayo aku antar pulang,” suara Musa pelan. “Aku khawatir ada apa-apa dengan Mama.”
“Ya sudah kalau begitu. Aku mau ke rumah kamu sekarang. Dan kamu jangan pernah menyesal kalau hal buruk terjadi pada Mama kamu.”
Setelah pamit kepada Laela, Musa lalu pergi. Tyka mengejarnya. “Kamu mau kemana?” tanya Tyka.
“Aku mau ke rumah kamu!”
Sampai di rumah Tyka, tidak ada siapa-siapa. Kata tetangga Mama Tyka sudah dibawa ke rumah sakit. Tyka kaget. Tyka dan Musa segera menuju ke sana. Dan memang, kata dokter jaga, Mama Tyka dengan di rawat di ruang gawat darurat. Dengan wajah sedih Tyka menatap Musa, kekasihnya. Perlahan dari sudut matanya air mengalir perlahan.
“Kenapa kamu sampai tidak percaya ke aku,” suara Musa pelan. “Aku melarang kamu nonton bukan karena aku mau pacaran lagi. Aku melarang kamu karena aku sayang sama kamu dan Mama kamu. Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku tak akan ke mana.”
Tyka mengisak.
“Sudahlah,” kata Musa lagi. “Sekarang hubungi Papa kamu. Katakan kepadanya kalau Mama masuk ruang gawat darurat.”


OLEH :IBNU ADAM VICIENA

Kalau Bulan Jatuh Cinta



Langkah Maya kian cepat menapaki tangga menuju kelasnya begitu mendengar bel tanda istirahat usai. Ia tak ingin Bu Nurky masuk kelas sebelum dirinya. Selain itu, ia harus menyempatkan diri menginterogasi Wulan.
"Heh, kemana aja kamu selama istirahat?" Maya langsung sewot karena Wulan ternyata sudah duduk di bangkunya.
Wulan cuma tersenyum.
"Di kantin anak-anak pada nanyain. Dodo nagih novel silat yang kamu pinjem, Idang nagih sebotol Fanta lantaran kamu kalah taruhan atas pertandingan bola semalam di teve, terus... aduh siapa lagi ya? Heh, malah cengengesan!"
"Lagian elo kok mau-maunya ngapalin pesen orang. Biar aja mereka nagih langsung," timpal Wulan.
"Begitu ya? Terus kemana aja kamu selama dua hari ini setiap bunya bel istirahat kamu langsung ngilang?"
"Ke perpustakaan."
Maya terbelalak. "Apa nggak salah tuh? Di sana kan seumur-umur nggak akan kamu temuin novel silat, Wul! Kapan kamu terakhir minum obat sih?"
"Lho, memangnya perpustakaan cuma buat baca-baca. Nggak...."
"Terus ngobrol dengan cowok? Hayo siapa dia?"
Wulan merasa dirinya terancam. Diliriknya pintu kelas. Aduh, moga-moga Bu Nurky cepat datang. Nah, benar kan. "Ssst, Bu Nurky dateng tuh!" bisik Wulan buru-buru.
Maya kesal. Mulutnya komat-kamit tanpa suara. Ia belum puas kalau pertanyaannya tak dijawab. Apalagi agaknya dugaannya kali ini benar. Ya, soal cowok. Ia bisa menangkapnya dari sorot mata Wulan. Oh, ini benar-benar berita. Si Iwul alias Wulan alias Rembulan Giargina sedang jatuh cinta. Tapi... berita itu belum cukup informasinya tanpa diketahui siapa cowok yang ditaksir Wulan. Akan kuselidiki, biar tahu rasa Wulan. Hehehe....
"Maya, kenapa kamu cengar-cengir? Kamu ngetawain baju baru Ibu, ya?" Bu Nurky di depat sewot begitu melihat mimik muka Maya. Ia memang selalu mengawasi dua gadis badung di kelas ini.
"Nggak kok, Bu. Baju Ibu bagus. Ngomong-ngomong beli di Tanah Abang ya, Bu? Abis mirip dengan punya tetangga saya."
"Sembarangan kamu!" Bu Nurky menghardik. Mukanya pucat. Ia bingung karena sudah lima orang menebak dengan jitu di mana ia membeli baju itu. Karena kesal, ia langsung menyuruh murid-muridnya ulangan mendadak. Biar tau rasa!
Tapi Wulan nggak protes seperti biasanya. Malah tumben-tumbennya ia mengumpulkan lebih dulu kertas ulangannya tanpa lebih dulu menyebarkan ke teman-teman cowok di sekitarnya. Maya gemas karena ia baru mengisi separuh soal di depannya.
Sampai bel bubar pelajaran sosiologi, Maya cuma menjawab empat soal essay dari sepuluh yang diberikan. Pelajaran berikutnya, ia sama sekali nggak menegur Wulan.
Begitu bel pulang berbunyi Maya langsung keluar lebih dulu. Ia mengambil tempat untuk menguntit Wulan. Diperhatikannya sobatnya yang berambut ala vokalis Roxette itu berjalan ke depan laboratorium kimia. Heh, mau apa anak sosial ke sana? Lima menit kemudian dari dalam laboratorium ke luar para penghuninya. Wulan dihampiri seorang cowok cakep. Maya tak begitu kenal dengannya karena ia yakin cowok itu jarang nongkrong di kantin, jarang menyentuh lapangan basket, dan... bukankah dia Ibnu. Cowok yang suka disebut-sebut teman-teman cewek di kelasnya karena wajahnya yang menggemaskan kayak bayi.
Jadi Wulan naksir Ibnu?
Maya buru-buru berbalik menuju ke kantin. Beberapa sobat kentalnya seperti biasa masih nongkrong di sana mengganggu anak-anak kelas satu. "Heh, dengar nih aku punya berita penting. Aku tahu sekarang kenapa si Iwul jadi lain. Dia ternyata lagi kasmaran dengan Ibnu, anak fisika itu," Maya langsung bertetetoet.
"Yang benar, nggak mungkin Iwul naksir Ibnu. Maksud gue Ibnu kan cowok...."
"Don, jangan gitu sama teman. Tomboi-tomboi juga Wulan masih normal, kok!" bela Maya.
"Dengan penampilannya yang macam gitu? Gue rasa semua orang sependapat dengan gue," timpal Dodong. Yang lain langsung manggut.
"Gue pikir malah dia pacaran sama elo," timpal Ijul.
"Kalian benar-benar keterlaluan!"
"Bukan gitu. Kalau tahu Iwul masih selera dengan cowok, dari dulu udah gue pacarin," tambah Ijul.
Maya memonyongkan mulutnya. Ia berbalik karena respon yang diharapkan dari teman-tamannya berbeda. Dalam kendaraan Maya jadi memikirkan Wulan. Kalimat yang dilontarkan teman-temannya soal Wulan jadi pikirannya.
Wulan memang tomboi. Bukan cuma dari dandannya, tapi juga perilakunya. Cewek itu cuma punya teman cewek Maya, selebihnya lelaki. Wulan lebih suka nongkrong di kantin sekolah atau ke lapangan basket daripada ngerumpi dengan teman-teman sejenisnya. Wulan nggak suka majalah cewek. Suaranya berat dengan tawa yang terbahak. Terkadang malah Maya lupa kalau teman jahilnya itu bukan cewek.
Tapi Maya tahu benar Wulan masih normal, nggak seperti yang dituding teman-temannya.
Esok harinya, cerita Wulan dan Ibnu jadi berita utama di SMA VIT. Entah siapa yang menyebarluaskan, dan lebih parah lagi menambah-nambahkan. Semuanya menyudutkan Wulan. Maya mengerti kalau kalimat nyinyir itu keluar dari para rival Wulan.
"Gimana bisa si Wulan pacaran dengan Ibnu? Dia kan nggak beres."
"Alaa, paling buat nutupin kenggakberesannnya."
"Tapi kok Ibnu mau, yah?"
"Semodern-modernnya dunia, dukun masih banyak, Non!"
Maya cuma menelan ludah mendengar mulut-mulut usil itu di tangga sekolah. Wulan juga pasti mendengar omongan usil itu. Mudah-mudahan ia nggak ngamuk.
Di dalam kelas raut muka Wulan nggak terlihat kisruh.
"Kamu udah dengar omongan orang di luar, Wul?"
Wulan mengangguk. "Biar aja, kafilah akan tetap berlalu meski anjing menggonggong."
"Kamu nggak bisa cuek gitu, Wul. Kalau kamu memang serius dengannya kamu harus perhatikan itu."
"Maksud elo, gue harus ngehajar mereka?"
"Bukan mereka, tapi kamu. Kamu harus mulai sedikit memperhatikan dirimu sendiri. Sori yah, Wul, terutama perilaku dan penampilanmu. Setelah aku pikir-pikir, ada salahnya juga mengabaikan omongan orang, terutama yang bernada kritis," papar Maya.
Wulan mendelik. "Kok elo jadi serius gini, May?"
"Aku cuma membayangkan kalau hal ini aku yang mengalaminya. Betapa sakitnya pasti. Apalagi kalau tudingan itu datang dari mulut teman-teman kita."
"Tudingan apa?"
"Bahwa kamu... mustahil menyukai cowok...."
Wulan terbelalak. "Gue belum denger yang itu. Siapa yang ngomong gitu? Biar gue hajar!"
"Tuh kan, kalau kamu begitu orang makin curiga. Seperti yang aku bilang, ada baiknya kalau kamu yang melakukan perubahan."
Wulan mendengus. "Elo yakin ini akan berhasil?"
"Tentu aja. Dan aku yakin Ibnu akan makin menyukaimu. Kamu serius kan dengannya?"
Wulan tersenyum. Maya sudah tiga kali gonta-ganti cowok, ia pasti tahu jawabannya.

***

Wulan akhirnya menyadari juga kalimat Maya. Ia memang nggak bisa terlampau mengacuhkan kata-kata orang. Bahwa orang menilai orang lain dari kulitnya memang selalu terjadi di mana-mana. Dan nggak ingin hal itu sampai berlarut-larut. Bagaimana kalau sampai terdengar ke telinga Mamanya tudingan-tudingan itu.
Wulan melakukan perubahan, kendati perlahan tapi amat terasa. Hari pertama ia mulai menjauhi berlama-lama di kantin, kemudian mengurangi tawanya, berikutnya ia membuat tatanan rambutnya lebih modis dan seterusnya. Sejauh ini, Ibnu memberi respon positif.
"Kamu tambah cantik, Wul!" puji Ibnu pada hari ketujuh mereka pacaran. Mereka merayakannya di KFC sepulang sekolah.
Wulan tersipu.
"Nanti malam aku mau ngajak kamu ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu pada orang rumah."
"Sungguh? Secepat ini?"
Ibnu mengangguk. Bulu halus di atas bibirnya membuat pesona sendiri buat Wulan. Tapi sedetik kemudian ada perubahan di mukanya. Wulan menangkap sebuah kegelisahan pada Ibnu. Sebelum Wulan sempat menanyakan sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.
"Eh, di sini rupanya," cowok yang umur sekitar tiga tahun di atasnya itu menyapa Ibnu.
"Iya. Ngg... kenalin. Ini kakak sepupuku, Raka. Ini Wulan...."
"Pacar baru Ibnu," tambah Wulan.
"Sori nih keburu-buru. Ibnu, tolong bilang sama nyokap, aku di rumah sepanjang hari ini." Raka langsung pergi tanpa menunggu kalimat lagi dari Ibnu dan Wulan.
Wulan tak peduli. Mungkin ia terburu-buru. Wulan melirik Ibnu. Cowok itu agaknya masih gelisah. Kenapa?
"Aku harus buru-buru pulang, Wul. Nggak apa-apa, kan?"
Wulan mengangguk. Mereka meninggalkan KFC. Setelah Ibnu mengantarnya sampai depan rumah. Wulan buru-buru masuk ke kamar. Pikirannya langsung tertuju pada persiapan untuk acara nanti malam.
Gue nggak mau mengecewakan Ibnu, Wulan membatin.

***

Ibnu mengangkat mukanya. Wajah Raka di depannya masih datar belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Ibnu berharap hal ini akan segera beres.
"Jadi elo ngedeketin Wulan cuma buat pura-pura. Untuk nutupin keadaan elo di mata Mama sama Papamu. Emangnya nggak kepikiran ujungnya nanti. Gimana kalau Wulan ternyata benar-benar mencintaimu?"
"Tadinya Ibnu nggak berpikir sampai ke situ. Kirain, Wulan... sama seperti kita. Penampilan dan perilaku dia selama ini sudah Ibnu amatin, makanya Ibnu berani deketin dia. Tapi setelah dideketin, baru ketahuan dia ternyata normal. Rencana untuk berkompromi dengannya gagal, tapi Ibnu masih ngebutuhin dia untuk menutupi kecurigaan orang rumah." Ibnu mengingat bagaimana kata-kata nyinyir Mama ketika menemukan foto Raka di dompetnya. Untung saat itu Ibnu bisa berdusta.
"Terserah. Gue sebenarnya seneng-seneng aja kalo elo memang bisa sungguh-sungguh bisa mencintainya. Bercinta dengan normal. Nggak seperti hubungan kita saat ini. Tapi bukan dengan kepura-puraan yang melibatkan perasaan orang lain," Raka berusaha berbicara sedewasa mungkin. Ia sendiri sebenarnya sudah menguntit Ibnu beberapa hari ini. Dan betapa kagetnya ia ketika tahu Ibnu—yang bukan saudara sepupunya itu—tengah berusaha menggaet seorang cewek di sekolahnya. Ada perasaan cemburu bergelora.
Ibnu tersedak. Ia nggak mau ditinggal Raka, seseorang yang memberikan kasih yang diimpikannya. Nggak mau kendati ia tahu hal itu nggak wajar. Dan Wulan, belum benar-benar mampu singgah di hatinya.
"Lakukanlah yang menurutmu terbaik saat ini juga," kata Raka sambil menunjuk HP di dekat Ibnu.
Tanpa ragu Ibnu menelepon Wulan.
"Halo, Ibnu! Udah siap, nih. Kapan gue dijemput?"
"Wulan... aku harus bilang... aku nggak jadi mengajakmu ke rumah. Dan mengenai hubungan kita... sebaiknya berakhir sampai di sini aja." Ibnu sadar kalimatnya akan menyakiti hati Wulan. Tapi biar gimana juga ia harus mengatakannya. Lebih cepat lebih baik bagi Wulan dan dirinya.
"Ibnu, elo nggak bercanda, kan? Ini... ini terlalu singkat. Kenapa, Ibnu? Ada yang salah dengan gue?"
"Bukan... bukan kamu yang salah. Aku yang salah. Tapi aku belum bisa ngomong sekarang. Aku belum siap...."
Wulan mematikan HP-nya. Berjam-jam ia nggak sabar nunggui datangnya malam, dan ketika saatnya datang justru kabar buruk yang ia terima. Wulan menengadahkan kepalanya memandang langit dari jendela kamar. Rembulan termangu di atas sana. Wulan benar-benar belum siap untuk patah hati.

BIODATA PENULIS

Benny Rhamdani, lahir di Bandung. Ia merupakan penulis senior, yang karyanya sudah tak terbilang jumlahnya, yang telah diterbitkan oleh berbagai media cetak nasional. Ia juga merupakan salah satu penulis cerita remaja yang paling banyak menjuarai LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang. Novelnya pun sudah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional di Bandung dan Jakarta. Kini ia menjabat sebagai Editor in Chief pada Penerbit Mizan Publishing di Bandung.

Salahkah Bila Aku Merindu...?

Ombak Pantai Sanur mendebur. Angin semilir melambaikan nyiur. Langit mulai temaram. Nila menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Rambut panjangnya tergerai dimainkan angin nakal. Ombak yang menerpa langkahnya, menghapus setiap jejak yang ditinggalkan di atas pasir putih.
Gadis itu melangkah di antara gemuruh ombak, desir angin, dan langit yang temaram. Tetapi langkahnya tak meninggalkan jejak di pasir. Ombak menghapusnya. Dan ombak ibarat harapan, rindu, cinta dan kasih sayang yang Nila rasakan. Ia tak mengerti, kenapa satu hari ini ia berada di Pantai Sanur. Padahal pantai inilah yang membuatnya luka, yang membuatnya hampa, dan yang membuatnya hampir terpuruk dalam kerinduan dan penantian akan seseorang yang tak pernah berani ia temui saat perjanjian yang sudah ditetapkan.
Ra, nama itu, memang tak terucap dari bibirnya, tetapi bergetar di setiap detak jantungnya. Nama itu yang sempat menghiasi hari-harinya yang penuh rindu. Rindu yang saat ini masih ia simpan, meskipun tidak ada kepastian. Karena setahun yang lalu, Ra berjanji akan datang kepada Nila, di Pantai Sanur ini, mengikat janji yang selama ini hanya terjalin melalui ponsel atau e-mail.
Ah, kenangan....
Nila memandang ke laut lepas. Ombak masih bergulung. Deburnya seperti di dada Nila. Karena hari ini, tepat satu tahun janji berjumpa di Pantai Sanur dengan kekasih jiwanya, Raga Dewa, yang entah saat ini ada di mana.
Nila Sayang, setelah lulus SMA ini, saya akan ke Bali. Saya memang tak punya siapa-siapa di Jakarta, tetapi sekarang ada kamu, yang akan menjadi tujuan hidupku. Saya ingin kuliah di Udayana. Saya mau kuliah seni sesuai dengan kemampuan dan bakat saya. Tetapi yang utama adalah, saya datangnya ke Bali untuk kamu, agar kita bisa selalu bersama. Nantikan saya di Pantai Sanur seperti yang sering kita katakan. Saya akan datang untuk kamu, untuk kamu Sayangku....
E-mail itu, masih Nila simpan di folder komputernya. E-mail dari Raga, kekasih jiwanya.
Tetapi, kemana kamu, Ra? Di hari yang kamu janjikan itu, saya memang tak berani menemui kamu, tetapi saya tetap di pantai ini dari pagi hingga sore hari, bahkan sampai malam menjelang. Saya ragu sekali untuk memutuskan apakah saya siap bertemu kamu atau tidak. Dan saya memilih untuk tidak bertemu kamu, dengan harapan, besok atau lusa saya akan mendapatkan suara kamu lagi, dan bertanya kenapa tak menepati janji. Tetapi nyatanya, sejak saat itu, saya tak temukan lagi keindahan kata di e-mail ataupun di ponsel. Kamu seperti menghilang ditelan ombak Pantai Sanur ini. Raga, kamulah yang membuat jiwaku lebih berarti. Kamulah yang membuat hidupku jadi punya arah. Kamulah yang membuat saya memahami hidup, bahwa ketika kehampaan jiwa ada, seseorang bisa dijadikan pegangan. Dan itu adalah kamu, Ra, gumam Nila. Ia menahan sesak nafasnya yang tak pernah berhenti setiap kali ingat Raga.
Tetapi, di mana kamu sekarang kekasihku? Belahan jiwaku? Rinduku? Cintaku? Saya memang bersalah mengambil keputusan ketika itu untuk tidak menemui kamu, tetapi saya belum lelah menantimu. Maafkan saya kalau saya bersalah, saya pun tak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apa, karena hingga saat ini, saya tak menemukan lagi jejakmu.
Nila terus melangkah, sekali waktu, gundukan pasir kadang ditendangnya. Butiran putih itu berhamburan terbawa angin. Namun rindu dan cinta Nila terhadap Ra tidak ingin seperti pasir yang hilang terbawa angin, atau seperti karang yang perlahan akan hilang terkikis oleh debur ombak lautan.
Raga, saya sudah rela melepaskan apa yang selama ini saya miliki. Untuk kamu, saya rela meninggalkan apa yang diharapkan oleh orangtua saya. Sehingga pilihan hidup setelah lulus SMA yang sudah disiapkan oleh orangtua saya, berani saya tinggalkan karena kamu, gumam Nila.
Setiap kalimat tak pernah keluar dari mulutnya. Karena semuanya akan ia katakan ketika akan bertemu dengan Raga. Pertemuan yang mungkinkah akan terulang? Dan akhirnya, yang ada hanyalah gumaman dalam hati yang paling dalam, dibalut rindu, cinta dan kasih sayang yang tak dapat diartikan.
Nila adalah gadis Bali yang sering gelisah oleh keadaan. Ia menentang keras ketika dalam kulturnya, bahwa perempuan harus manut terhadap adat yang ada. Dan ketika duduk di bangku kelas dua SMA, orangtuanya mengabarkan kepada Nila, kalau sudah lulus sekolah nanti, ia akan dijodohkan dengan seorang laki-laki Bali yang berkasta.
Nila berontak, bahwa dalam pribadinya, cinta bukanlah paksaan, cinta adalah tunas jiwa yang tumbuh di dalam hati yang paling dalam. Ia tidak menerima niat orangtuanya untuk menjodohkannya. Dan konsekuensinya, Nila keluar dari rumah.
Itu tidak baik memang, tetapi pemberontakan Nila bukannya tidak menghormati kedua orangtuanya. Apalagi kepada sang Bunda, Nila adalah anak pertama dari dua bersaudara yang amat disayangi. Karena sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu menduduki ranking di kelasnya. Bahkan ia selalu masuk dalam kategori siswa teladan. Ia ingin meraih cita-citanya setinggi bintang. Karena itulah, ketika kedua orangtuanya mengabarkan bahwa setelah lulus SMA Nila akan dijodohkan, harapan dan cita-cita itu seakan kandas di tengah jalan.
Dalam kehampaan hatinya, hadirlah Raga, lelaki yang ia kenal lewat sms yang nyasar ke ponselnya.
Aku adalah arah mata angin yang selalu berhembus ke setiap lembah di mana ada rumput hijau, gunung, sungai dan pelangi. Desirku bagaikan dawai yang selalu mendendangkan tentang cinta dan kerinduan.
Nila terhenyak, dan terjaga begitu menerima pesan tersebut yang tak diketahui dari siapa. Tetapi selanjutnya ada perkenalan. Dari perkenalan itulah akhirnya Nila tahu, ternyata Raga mengirim sms itu asal saja, tidak pernah tahu akan sampai ke mana. Tetapi katanya, ia punya Tuhan, yang akan membawa pesan itu kepada seseorang yang akan dapat menentukan arah hidupnya. Ah, pribadi yang menarik, pikir Nila ketika itu. Dan dari perkenalan lewat ponsel itu, akhirnya pun berlanjut ke e-mail dan rasa. Rasa yang sulit Nila artikan.
Selama itulah hubungan itu terjalin. Setiap kata adalah keindahan, setiap waktu adalah kerinduan, dan cinta terpupuk dari rentang waktu yang berjalan, serta rindu yang berceceran.
Nila memilih semangat hidup dengan menjadi kekasih jiwanya Raga, meskipun ia belum pernah bertemu dengan pujaan hatinya. Makanya ia amat senang begitu Raga mengabarkan, ketika lulus SMA nanti, ia akan kuliah di Udayana, dan akan bertemu Nila di Pantai Sanur ini.
Kekasihku, ketika malam menjelang dalam penantian akan pertemuan kita di Pantai Sanur nanti, kumpulkanlah rindu yang selama ini kita punya. Lalu kita jadikan semangat hidup untuk berkarya. Bantu saya untuk meraih cita-cita dan saya akan mendukung kamu menjadi wanita yang mandiri, maju dan berprestasi. Kita akan menjadi sepasang kekasih yang saling mendukung untuk sebuah cita-cita. Dan kalau dalam hidup orang ingin meraih bahagia, bahagia itu adalah milik kita, bahagia itu adalah kita berdua
Nantikan saya dengan penuh cinta.
Cintamu,
Raga Dewa
E-mail itu pun, masih Nila simpan di komputernya.
Ra, di manakah kamu, Sayang? Jangan salahkah kekasihmu ketika harus mengambil keputusan untuk melupakanmu. Satu tahun adalah waktu yang panjang untukku memendam rindu. Tak adakah maaf atas keputusan yang pernah salah saya lakukan?
Di mana kamu Ragaku?
Na terus melangkah, tetapi langkahnya bukan menyusuri pantai, karena malam sudah datang. Dan gelap mulai merangkul setiap sisi pojok Bali.
Kesunyian malam memang membawa kerinduan.
Tetapi Nila tak tahu, rindu untuk apa dan untuk siapa yang kini ia rasakan. Karena Raga ternyata tak pernah hadir lagi di setiap langkahnya. Ra hanya menjadi kekasih dalam jiwa Nila.
Andai saja waktu boleh kembali, saya akan menemui kamu setahun yang lalu di Pantau Sanur ini sesuai dengan janji kita, Ra. Tapi waktu memang tak pernah bisa kembali.
Ra, di mana kamu? Pelan, kalimat itu Nila katakan, dan gadis itu mulai pergi meninggalkan debur ombak Pantai Sanur. Tetapi jejaknya tetap meninggalkan rindu, cinta dan harapan kepada Ra, yang kini entah berada di mana.
Ra, aku rindu kamu. Salahkah bila aku masih merindu....

BIODATA PENULIS
Putra Gara, lahir di Jakarta 2 Februari 1976. Pria berkacamata minus ini getol menulis puisi, juga menulis cerpen. Karyanya sudah banyak dipublikasikan di berbagai media cetak daerah dan ibukota. Aktif menulis sejak di bangku SMP. Ketika duduk di bangku SMA dan bangku kuliah, ia sudah menjadi wartawan di majalah-majalah remaja dan koran mingguan ibukota. Pernah menerbitkan beberapa novel remaja. Sekarang, mendirikan GR. Production, yang bergerak dibidang recording, cinema dan publishing. Pernah menjabat sebagai redaktur pelaksana di majalah Planet Pop (1999-2000).

Di Mana Akhir Sebuah Penantian ?



 

Kisah ini berawal dari sebuah pengalaman pribadiku…waktu itu pada bulan ramadhan, aku bersama teman ku sebut saja sarel..,ngebuburit untuk menanti buka puasa,saat itu sarel yang mengemudi motor melintasi sebuah Cafe memperlambat laju motornya,dalam waktu yang bersamaan aku melihat seorang gadis dengan jilbab hitamnya, dia yang berjaga di dalam Conter hp sembari menatap keluar ke arah jalan,persis di samping Cafe itu berdiri, tak berselam berapa lama aku tersenyum,entah ada apa dengan perasaan ku pada waktu itu,langsung saja ku perintahkan teman ku untuk memutar balik motornya..
“Sarel? balik motornya……”kata ku..sambi tergesah-gesah
sarel: “kenapa…”
rahmat: ngak apa2 balik aja motornya..” setelah sarel membalik motornya dan melintas tuk ke 2 kalinya dia sudah tidak ada.. di tempatnya,

Malam tiba…ku ajak kedua teman ku tuk makan di sebuah warung tidak jauh dari Conter hp gadis itu, sambil asik makan aku teringat dengannya, tampa pikir panjang ku ceritakan gadis itu dengan kedua teman ku
Rahmat : “tadi sore aku liat gadis penjanga Conter hp yg berada di samping kafe….itu”
Widya salah seorang temanku langsung menjawab klo Conter hp itu milik salah satu keluargan temannya,spontan saja aku senang mendengarnya,krn bisa tau dia dari temannya
“Kenapa ?…”.kata widya yang melihat ku tersenyum,mungkin dia sudah tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Sesaat setelah kami selesai makan,kami bergegas pulang,melintasi Conter hpnya.

 “bunda…….”teriak salah satu temanku,seketika ia menyuruh ku tuk berhenti,dia turun dan menghampiri temannya yang bernama bunda, dengan percakapan yang cukup singkat,ternyata widya menanyakan soal wanita yang menjaga Conter itu, Namanya ayu persis dengan wajah nya yang memang putih bersih…he..he….,sambil mencari tau namanya , widya juga meminta no hpx. Setelah selesai menanyakan sedikit tentang nenk ayu, cie.pke nenk ayu segala….,kita pun bergegas tuk pulang, Sesampai di rumah,widy bilang klo cewek yang jaga Conter itu bibinya bunda,widi juga sempat ingin memberi aku nomor ayu,tapi aku tolak, Mau sih…tapi malu….he..he….,aku nolak bukan krn ngak suka tapi rencana mau ambil diam-diam…jail dikit kan ngak papa.

Keesokan harinya, Aku dan sarel memutuskan ke Conter hpnya tuk beli pulsa, Niatnya sih mau ketemu dia karnah pulsahku masih ada, cinta emang gila bro….,sesaat sesampainya di sana dan menanyakan pulsa yang kuingginkan, tampa kusangka dia langsung menyambutku dengan senyuman manis, jantung ku serasa mau copot kaki ku juga terasa melemas gemetar seluruh badan tingkah laku ku pun mejadi aneh kaya orang bego….emang dasanya bego…ha..ha..ha…,dia memandangku begitu ramah tegur dan sapahnya pun juga lembut, dan itu yang membuat hatiku luluh……sepertih di belai-belai…alah..lebai…..,sesaat mau pulang dia melontarkan senyuman tuk kesekian kalinya dan kubalas dengan senyuman yang paling manis……pula untuknya….., Sesampai nya di rumah aku ngak bisa tidur…memikirkan dia.aku juga ngak bisa melihat dia setiap hari karna aku harus jaga nenek yang sedang sakit di kota ngak tega juga donk ninggalin nenek, tetapi setiap pulang kerumah orang tua ku, aku sempatkan untuk selalu melintas di depan Conter hpnya dan pada saat itu pula aku sering beli pulsa disana,melihat matanya,senyumannya,suaranya yang lebut membuat aku jatuh hati kepadanya, teman-teman ku juga selalu menanyakan apa aku suka atau tidak.aku bilang aku suka..(tetapi di dalam hati berbisik  aku jatuh cinta padanya) selama setahun aku memendam perasaanku, tak punya keberanian tuk mendekatinya seolah kalah dengan rasa cinta ku.selayak tenggelam dalam bejanah emas yang tak bertepih.aku hanya bisa menatapnya dari kejahuan,tepat di dapan Conternya terdapat sebuah kedai kecil, aku selalu duduk di kedai itu sambil menatap tingkah lakunya,menatap indahnya,serasah menatap bidadari yang turung dari kayangan, weleh..weleh..puitis bgt tuch kata..kata.meski hanya menatap dari kejahuan aku sudah sangat bersyukur.selama setahun aku melakukan hal itu sampai saat di akhir penantiaan ku tuk mengenalnya lebih jauh,aku memberanikan diri untuk megenalnya lebih dekat lagi.ku minta nomor hpnya dari bunda aku memutuskan tuk menghubunginya tapi lagi…lagi….aku gugup tuk menghubunginya untuk ada widi yang mau membantu aku tuk bicara terlebih dahulu.”mau nelpon aja pake di bantu gi mana sich..lo..payah..he..he..he..”setelah berhasil menghubunginya aku sangat senang bisa ngobrol ama dia aku tanya,tapi di satu sisi lainya di udah harus ninggalin makassar tuk pulang ke bandung.

Sebelum ayu berangkat kebandung aku sempatkan diri untuk menemuinya tampa sepengetahuaanya, aku cari dia kemana-mana bersama bunda  tapi tak jua aku dapatkan setelah lama mencari barulah ia ku temui di rumah neneknya, pada saat itu di sedang berpamitan dengan keluarganya.bunda memanggilnya keluar dan membawakanya kepadaku di tanyakannya kepada ayu bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganya ia lah aku, Kita ngobrol meski aku masih malu tuk berbicara tapi dia orangnya yang cepat akrab dan lepas…jadi alur pembicaraan kita lancar. ”andai bulang bisa ngomong!!!”sahut ayu, itu kata-kata yang paling teringat di benakku”ia kan bulang bisa lihat kita semua”balas ku.kita ngobrol hanya sekitar 20 menit-an tapi aku sudah legah,hati kupun gak kusut lagi,pakaian kele kusut…. ,setelah itu dia berpamitan tuk pulang, Itu terakhir kali nya aku bertemu denganya dan berharap dapat bertemu lagi di kemudian hari AMIN…..

Walau ia dah pergi jahu, aku ngak pernah putus kontek ama nenk ayu, ku slalu nanyain kabarnya Meski hanya akrab melalui telpon tapi aku sangat bersyujur banget ternyata anak nya menyenangkan dari apa yang aku bayang kan, selain orang nya manis..dia juga lucu dan apa adanya, megapa aku ngak dari dulu yach kenal ama dia????, hari-demi hari berlalu kita sering berkomunikasi melalui HP ku juga siring SMSan ma dia dari situ aku tahu klo orang yang seperti dia yang aku cari, yang bisa buat aku tersenyum & tertawa,
Hingga saat kunyatakan perasaanku padanya, aku bilang kalo aku sayang ama dia, tapi dia hanya menjawab dengan kata trimah kasih…tapi dalam benakku berharap dia memiliki perasaan yang sama denganku.

Kini aku merindukan tawanya,senyumnya,sapahnya,tutur katanya, ya tuhan pertemukanlah kami kembali hanya dia yang ada di hatiku,apakah aku harus menunggunya?? Jika memang itu yang terbaik  aku akan menuggunya

Mencinta…(ku menunggu)

Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik
Akan memberi kesusahan untuk menguji kita
Kadang, Ia pun melukai hati kita
Supaya hikmahnya bisa tertanam amat dalam
Jika kita kehilangan cinta..
Maka ada alasan dibaliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
Namum kita tetap harus percaya
Bahwa ketika ia akan mengambil sesuatu
Ia telah siap memberi yang lebih baik…
MENGAPA MENUNGGU????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan
Kita tak ingin tergesa-gesa…
KARENA…..
Walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tak ingin sembrono…
KARENA…..
Walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai…
Kita tak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian cinta
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu…
BAGIKU….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan…
Ketimbang memilih apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidupku terlampau singkat untuk dilewatkan bersama
PILIHAN YANG SALAH
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius
PERLU KAU KETAHUI
Bahwa bunga tidak mekar dalam semalam
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan
Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan ini
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal iman, keberanian dan pengharapan….
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan
PADA AKHIRNYA TUHAN…
Dalam segala hikmah dan kasihnya….
Meminta kita menunggu….
KARENA…
Alasan yang penting!!!!!!






BIODATA PENULIS
Rahmat Ramadhan, lahir di Makassar, 20 April 1990. Ia amat menggemari sastra, sejarah serta geografi,ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini penulis tengah mencoba megisahkan kisah cintan pribadi dan mengumpulkan beberapa kisah kisah lain dari penulis-penulis terbaik.

Ramalan SuKu MAYA?????




Ramalan Bangsa Maya mengatakan : Akhir dunia akan ditandai dengan perselisihan dan perang nuklir

Dalam Berbagai Ajaran Agama, semua yang bermula pasti akan berakhir. Seperti halnya ada siang akan diikuti oleh malam, adanya sehat pasti akan diikuti datangnya sakit dan adanya sifat jahat pasti akan diimbangi oleh kebaikan. Tinggal bagimana kit amenyikapi semua hal tersebut untuk tetap menjaganya sesuai dengan kehidupan seperti apa yang kita inginkan.

Ada sebuah cerita dan ramalan menarik yang dapat diambil dari setiap ajaran agama dan ramalan para ahli sufi. Dalam mitos-mitos kuno, setiap masa atau kaum memiliki era dan kepercayaan bagimana dunia akan berakhir. Namun disetiap waktunya ramalan tersebut menjadi satu hal yang patut diperhitungkan dan mana yang benar. Menurut para ahli arkeolog, Ramalan Nostradamus dan Para Sufi Bangsa Mayalah yang paling tersohor. 

Kalender Bangsa Maya hingga saat ini disebutkan adalah kalender yang paling akurat yang pernah ada di bumi. Sudah banyak kejadian dan fenomena mereka kumpukan dan diterangkan dalam sebuah simbol-simbol dan karakter untuk meramal kehidupan budaya dan akhir jaman. Salah satunya perhitungan kalender menyebutkan bahwa tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times”. Maksud kata ini masih banyak diperdebatkan oleh para ilmuwan dan arkeolog namun makna tersebut salah satunya dimaknai sebagai berakhirnya kehidupan manusia di bumi.

Seperti mengingat kisah nabi Nuh (Noah), pada saat itu, seluruh kehidupan manusia telah musnah. Akibat sebuah bencana yang disebut karena azab, hanya umat nabi Nuh yang hidup dan selamat. Tidak hanya sekali itu, menurut catatan sejarah tlah sebanyak 81 kali kehidupan dibumi membuat seperti siklus. Kehidupan satu muncul dan khiudpan lainnya dihancurkan. Akankah kehidupan manusia di lima tahun mendatang musnah?

”Ketika ramalan demi ramalan saya artikan tersembunyi sebuah makna bahwa perang dunia ketiga akan segera terjadi,” kata Doktor Michael Ratherford seoarang arkeolog yang mempelajari manuskrip Nostradamus sejak 1975. Selanjutnya kisah yang ia tangkap dari ramalan tersebut ditulisnya dalam bentuk buku yang berjudul The Nostradamus Code: World War III.

Tumpukan manuskrip yang ditulis oleh Michel de Nostradame, atau lebih dikenal Nostradamus (1503-1566) itu ditemukan oleh anggota dari Italian National Library di Roma. Temuan besar pada Mei 2005 tersebut memberikan makna yang lebih besar sekarang dengan sebutan The Nostradamus Code. Untuk memahaminya, Ratherford menggunakan sebuah teknik analisa seni dan bilangan alogaritma. Data yang dihasilkan dapat dianalisis dalam waktu 10 menit. Dalam buku disebutkan permusuhan dan perkelahian akan berkecamuk dan perang dunia ketiga akan terjadi.

Salah satu terpanas yang saat ini sedikit menyingggung dan benar-benar menjadi tanda dibahas dalam BAB empat buku tersebut. BAB tersebut membahas kapan waktu permasalahan timbul. Dalam syair ke 3 dan 4 Nostradamus Code menyebutkan pada abad ke 20 perselisihan akan banyak terjadi. Pemimpin yang gila meluncurkan bom nuklir ke daerah Mediterania dan Eropa. Selama periode kegelisahan tersebut pemimpin negara di Timur Tengah mampu mendapatkan senjata nuklir. Dia kemudian melakukan sesuatu hal yang kecil dan tidak akan ragu lagi menggunakan senjata untuk peperangan.

Selain itu dalam syair ke 67 disebutkan sumber bencana seperti gunung api, gempabumi, banjir dan musim kekeringan akan semakin dirasakan oleh seluruh umat manusia. Bencana-bencana tersebut akan menyebabkan pertikaian semakin besar dan konflik sosial semakin parah. Amerika disebutkan akan mengalami kondisi yang paling parah terhadap bencana alam seperti gempabumi dan banjir. Pada waktu itu kondisinya akan penuh konflik, keputusasaan dan kesengsaraan. Akibat bencana yang besar tersebut Amerika akan Bangkrut dan struktur politik serta sosialnya melemah.

Tanda lain yang disebutkan dalam syair ke 23 dan 81 disebutkan bahwa kepercayaan anti terhadap keberadaan Tuhan akan kembali meningkat di Timur Tengah. Kepercayaan ini kemudian akan merambah keberbagai penjuru seperti Eropa, dan Wilayah Mediterania. Tanda lainnya adalah untuk negara ke tiga dunia, para pemimpinnya akan saling berselisih. Selain itu masih banyak lagi sumber masalah yang menjadi tanda perang dunia ke tiga untuk menuju akhir dunia.

”Rangkuman dalam buku ini hampir sama penggambarannya seperti dalam kepercayaan Tuhan yang terangkum di umat nabi Musa, di Injil atau Islam,” kata Ratherford. Dalam sampel buku yang diterbitkannya tersebut ia tidak menyebutkan apakah Nostradamus menyebutkan waktu akhir dunia seperti bangsa Maya atau tidak. Namun setiap BAB yang diterangkannya bahwa keterangan kapan akhir dunia ini akan terjadi sudah sangat dekat.

Pemusnahan Berkali-kali

Didalam beberapa mitologi-mitologi kuno bahwa bumi ini pernah dilanda banjir dahsyat yang mengerikan, hampir semua peradaban-peradaban zaman dulu ada cerita tentang bencana yang satu ini, misalnya diantara lebih dari 130 suku Indian di Benua Amerika hampir tidak ada suku yang tidak memitoskan banjir dahsyat sebagai topik.

Mari ingat Kisah Nabi Nuh (Noah). Dikisahkan didalam Al-Qur’an maupun Bible, bahwa seluruh peradaban manusia pada saat itu musnah, terkecuali bagi orang-orang yang percaya pada ajaran Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Nuh yang selamat dari bencana air bah yang maha dahsyat itu.

Di sekitar pedalaman kaki Gunung Himalaya, Tibet misalnya, orang-orang menjumpai sebuah suku, keturunan dan rupa mereka hampir mirip dengan orang Yunani. Konon katanya, mereka adalah orang-orang yang beruntung masih hidup atas peristiwa banjir yang dahsyat itu.

Pada tahun 1986, kantor berita pemerintah Turki menyatakan bahwa 5.200 meter di atas permukaan laut puncak gunung (Ararat), telah ditemukan sebuah benda yang mirip dengan perahu Nabi Nuh yang berbentuk persegi empat, lalu mengambil gambarnya dari angkasa, dan panjang perahunya sesuai dengan yang dicatat dalam kitab suci.

Adalah sebuah artikel menarik, menurut penuturan dari Master Li Hongzhi (pendiri Falun Gong/Falun Dafa) dalam buku Zhuan Falun Ceramah I halaman 22. Beliau menuturkan bahwa peradaban dimuka bumi ini setidaknya telah dihancurkan kurang lebih sebanyak 81 kali mengalami kemusnahan total.

Lalu kenapa manusia bisa mengalami bencana itu? Mitologi dari setiap negara mempunyai penjelasan yang sama terhadap hal ini. Semua ini dikarenakan kemerosotan dan kebejatan manusia, lalu Sang Penguasa Alam Semesta memutuskan untuk menghukum manusia.

Dikisahkan pada zaman nabi-nabi terdahulu, ada yang disebut sebagai zaman edan dan zaman fitrah kembali, sehabis zaman edan akan kembali lagi ke zaman fitrah sampai saatnya tiba alam semesta ini benar-benar akan dihancurkan secara keseluruhan.

Ketika suatu zaman dimana manusia telah menunjukkan kemerosotan moral yang luar biasa (zaman edan), Sang Pencipta memutuskan untuk mengakhiri peradaban tersebut dengan mengirimkan beberapa bencana besar yang akhirnya mengakhiri kehidupan dimuka bumi pada saat itu.

Hanya beberapa oranglah yang disisakan untuk memulai peradaban baru selanjutnya. Pada waktu peradaban baru ini lahir, hati orang-orang yang berhasil terselamatkan tersebut kembali dalam keadaan bersih/fitrah (setelah bertobat) karena telah disadarkan oleh rentetan bencana mengerikan yang menimpanya dimasa silam.

Pada saat ini, dimana tanda-tanda zaman edan telah dapat terlihat dengan begitu jelas, mungkin kembali saatnya peradaban pada saat ini harus kembali diakhiri, dan akan digantikan dengan sebuah peradaban baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sebelumnya. (mungkin manusia-manusia yang akan datang akan mengenal sisa-sisa peradaban kita sebagai sebuah peradaban maju yang hilang ditelan masa, seperti halnya kisah mengenai peradaban Atlantis dan Lemuria yang tenggelam dimasa silam).

Tahun 2012 Bumi akan dihancurkan kembali?

Pada sistem penanggalan didalam Kalender Bangsa Maya/Maya Calendar yg merupakan kalender paling akurat hingga kini yg pernah ada di bumi. (Perhitungan Maya Calendar dari 3113 SM sampai 2012 M), mereka (Bangsa Maya) menyatakan pada tahun 2012, tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times”. Maksud dari “End of Times” itu sendiri masih diperdebatkan oleh para ilmuwan, dan arkeolog.

Ada yang menyatakan bahwa maksudnya adalah :

1. Berhentinya waktu (bumi berhenti berputar)
2. Peralihan dari Zaman Pisces ke Aquarius
3. Peralihan dari Abad Silver ke Abad keemasan
4. End of Times = End of the World as we know it
5. Akan ada sebuah galactic Wave yang besar, yang memberhentikan semua kegiatan di muka bumi ini, termasuk kemusnahan manusia
6. Perubahan dari dimensi 3 ke dimensi 4, bahkan 5
7. Kehidupan manusia meningkat dari level dimensi 3, ke 4, DNA manusia meningkat dari strain 2 ke 12, sehingga manusia dapat menggunakan telepati bahkan telekinesis
8. Ada yang menyatakan tidak akan terjadi apa-apa
9. Ada yang menyatakan waktu sudah tidak akan berlaku, jadi waktu tidak linear, tetapi bisa berubah-ubah, sesuai dengan waktu yang kita alami, karena ditemukannya mesin waktu
10. Ditemukannya mesin waktu dan stargate
11. Manusia sudah dapat melakukan transportasi ke galaxi lain, melalui stargate
12. Bangkitnya messiah, yang akan menyelamatkan manusia dari kehancuran
13. Kebangkitan Isa AS / Jesus
14. First Contact pertama kali peradaban manusia dengan Alien/UFO
15. Manusia bergabung dengan komunitas antar galaxi pertama kali, manusia = galaxy being

Dalam kalender bangsa Maya yang sangat tersohor itu, diramalkan bahwa pada periode 1992-2012 bumi akan “dimurnikan”, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru.

Dalam sejarah peradaban kuno dunia, bangsa Maya dikenal menguasai pengetahuan tentang ilmu falak yang khusus dan mendalam, sistem penanggalan yang sempurna, penghitungan perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi. Kesempurnaan dan akurasi dari pada penanggalannya membuat orang takjub.

Sekelompok masyarakat yang misterius ini tinggal di wilayah selatan Mexico sekarang (Yucatan) Guetemala, bagian utara Belize dan bagian barat Honduras. Banyak sekali pyramid, kuil dan bangunan-bangunan kuno yang dibangun oleh Maya yang masih dapat ditemui di sana. Banyak juga batu-batu pahatan dan tulisan-tulisan misterius pada meja-meja yang ditinggalkan mereka.

Para arkeolog percaya bahwa Maya mempunyai peradaban yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari peninggalannya seperti buku-bukunya, meja-meja batu dan cerita-cerita yang bersifat mistik. Tetapi sayang sekali buku-buku mereka di perpustakaan Maya semuanya sudah dibakar oleh tentara Spanyol ketika menyerang sesudah tahun 1517. Hanya beberapa tulisan pada meja-meja dan beberapa system kalender yang membingungkan tersisa sampai sekarang.

Seorang sejarahwan Amerika, Dr. Jose Arguelles mengabdikan dirinya untuk meneliti peradaban bangsa ini. Ia mendalami ramalan Maya yang dibangun di atas fondasi kalender yang dibuat bangsa itu, dimana prediksi semacam ini persis seperti cara penghitungan Tiongkok, ala Zhou Yi. Kalendernya, secara garis besar menggambarkan siklus hukum benda langit dan hubungannya dengan perubahan manusia.

Dalam karya Arguelles, The Mayan Factor: Path Beyong Technology yang diterbitkan oleh Bear & Company pada 1973, disebutkan dalam penanggalan Maya tercatat bahwa sistim galaksi tata surya kita sedang mengalami ‘The Great Cycle’ (siklus besar) yang berjangka lima ribu dua ratus tahun lebih. Waktunya dari 3113 SM sampai 2012 M. Dalam siklus besar ini, tata surya dan bumi sedang bergerak melintasi sebuah sinar galaksi (Galatic Beam) yang berasal dari inti galaksi. Diameter sinar secara horizontal ini ialah 5125 tahun bumi. Dengan kata lain, kalau bumi melintasi sinar ini akan memakan waktu 5125 tahun lamanya.

Orang Maya percaya bahwa semua benda angkasa pada galaksi setelah selesai mengalami reaksi dari sinar galaksi dalam siklus besar ini, akan terjadi perubahan secara total. Orang Maya menyebutnya, penyelarasan galaksi (Galatic Synchronization). Siklus besar ini dibagi menjadi 13 tahap, setiap tahap evolusi pun mempunyai catatan yang sangat mendetail. Arguelles dalam bukunya itu menggunakan banyak sekali diagram-diagram untuk menceritakan kondisi evolusi pada setiap tahap. Kemudian setiap tahap itu dibagi lagi menjadi 20 masa evolusi. Setiap masa itu akan memakan waktu 20 tahun lamanya.

Dari masa 20 tahun antara tahun 1992-2012 itu, bumi kita telah memasuki tahap terakhir dari fase Siklus Besar, bangsa Maya menganggap ini adalah periode penting sebelum masa pra-Galatic Synchronization, mereka menamakannya: The Earth Generetion Priod (Periode Regenerasi Bumi). Selama periode ini bumi akan mencapai pemurnian total. Setelah itu, bumi kita akan meninggalkan jangkauan sinar galaksi dan memasuki tahap baru: penyelarasan galaksi.

Pada 21 Desember 2012 akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia kali ini, dalam perhitungan kalender Maya. Sesudah itu, umat manusia akan memasuki peradaban baru total yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sekarang. Pada hari itu, tepatnya musim dingin tiba, matahari akan bergabung lagi dengan titik silang yang terbentuk akibat ekliptika (jalan matahari) dengan ekuator secara total. Saat itulah, matahari tepat berada di tengah-tengah sela sistem galaksi, atau dengan kata lain galaksi terletak di atas bumi, bagaikan membuka sebuah “Pintu Langit” saja bagi umat manusia.

Mulai 1992, bumi memasuki apa yang oleh bangsa Maya disebut ‘Periode Regenerasi Bumi”. Pada periode ini, Bumi dimurnikan, termasuk juga hati manusia, (ini hampir mirip ramalan orang Indian Amerika-Utara terhadap orang sekarang ini), subtansi yang tidak baik akan disingkirkan, dan substansi yang baik dan benar akan dipertahankan, akhirnya selaras dengan galaksi (alam semesta), ini adalah singkapan misteri dari gerakan sistem galaksi kita yang diperlihatkan oleh bangsa Maya.

Sejak tahun 1992 sampai 2012 nanti, bagaimana terjadi “pemurnian” dan bagaimana pula terjadi “regenerasi” pada bumi kita ini, tidak disebutkan secara detail oleh bangsa Maya. Dalam ramalan mereka pun tidak menyinggung tentang apa hal konkret yang memberikan semangat manusia untuk bangkit dari kesadaran dan bagaimana bumi mengalami permurnian, yang ditinggalkan oleh mereka kepada anak cucunya (barangkali tidak tercatat). Lantas, fenomena baru apa yang sudah bisa kita lihat sejak tahun 1992 sampai sekarang yang bisa kita kaitkan dengan ramalan bangsa Maya yang beradab itu?

Mungkin sudah diatur, bahwa kalender Maya tidak hilang dan sejarah manusia, dan harus diuraikan dengan kode oleh manusia sekarang. Namun ia tetap saja harus dilihat, apakah umat manusia yang terpesona oleh konsepsinya yang terbentuk sesudah kelahiran dapat menembus batas-batas untuk mengingatkan dan memahami kebenaran yang melampaui sistim pengetahuan kita.

Sebenarnya, jika ditinjau dari beberapa penelitian yang telah dilakukan saat ini. Memang pada beberapa dua dasawarsa belakangan ini, bumi sedang mengalami suatu siklus yang dinamakan pembalikan daya magnet kutub.

Pembalikan daya magnet kutub adalah proses yang terjadi pada waktu kutub utara dan kutub selatan saling bertukar posisi. Ketika ini terjadi, untuk beberapa saat medan magnet bumi mencapai Gauss nol, yang berarti bumi pada waktu itu punya daya magnet nol. Ketika ini terjadi bersamaan dengan perbalikan orbit sebelas tahunan kutub matahari, masalah besar akan terjadi.

Menurut perhitungan computer Hyderabad, pembalikan kutub Bumi dan Matahari dapat mengakibatkan masalah besar selain elektronik tidak bekerja dengan semestinya, burung yang bermigrasi kehilangan haluan, dan bermacam macam:

1. Sistem ketahanan tubuh semua hewan dan termasuk manusia akan banyak melemah.
2. Lapisan luar bumi akan mengalami pertambahan gunung berapi, pergerakan tektonik, gempa bumi, dan tanah longsor.
3. Medan magnet Bumi akan melemah dan radiasi alam semesta berasal dari matahari bertambah berlipat ganda mengakibatkan bahaya radiasi seperti kanker dan sebagainya tidak dapat dihindari
4. Benda-benda angkasa akan tertarik masuk ke Bumi
5. Daya gravitasi Bumi akan mengalami perubahan meskipun tidak diketahui bagaimana ia akan berubah.

Jika anda menambahkan semua skenario bencana yang mungkin terjadi, anda dapat dengan mudah mengatakan dengan kalimat sederhana ini, Bumi dapat menjadi tempat yang tidak cocok untuk ditinggali peradaban manusia pada 2012 ataupun mereka yang hidup dekat lapisan luar bumi. Hal ini mungkin saja dapat terjadi pada Mars jutaan tahun yang lalu.

Mungkin benar adanya apa yang dikatakan Bangsa Maya mengenai kehancuran perdaban manusia di tahun 2012 esok, hal tersebut tentunya dapat kita lihat dari sifat-sifat manusia zaman sekarang yang bagaimana moralnya, kelakuan telah sangat merosot dan alam-pun kelihatannya semakin tidak bersahabat dengan kita.

Di Indonesia sendiri seorang peramal mengatakan, “pada tahun 2012 nanti jumlah penduduk di Indonesia ini tinggal 40%”. Lalu ketika ditanya apa penyebabnya,dia menuturkan, “pada tahun itu sebuah bencana besar akan melanda Bumi secara Global, mungkin pada setiap negara nantinya hanya menyisakan 30%-40% kehidupan untuk kembali membangun kehidupan baru”.

Ramalan serupa juga diutarakan oleh Beberapa Biksu di Tibet yang terkenal dengan penguasaan clairvoyance-nya yang sangat baik. Mereka mengatakan pada awal tahun 2012 merupakan tahun paling mendebarkan bagi umat manusia di muka Bumi, dimana pada permulaan tahun, beberapa fenomena aneh akan banyak bermunculan. Namun dalam penutupnya, Para Biksu mengatakan Bumi akan terselamatkan oleh sebuah kekuatan besar yang melindungi mereka secara kasat mata, sehingga memungkinkan peradaban manusia tidaklah sepenuhnya musnah.

Pada 10 tahun belakangan ini Master Li Hongzhi mengajarkan prisip karakter alam semesta “Zhen-Shan-Ren” (Sejati-Baik-Sabar) yang berefek untuk memurnikan hati manusia dan alam ini. Dalam waktu singkat pengikut latihan kultivasi jiwa dan raga ini telah lebih mencapai dari 200 juta orang yang tersebar lebih di 60 negara. Melalui kultivasi yang terus menerus latihan ini dapat menyapai tujuan menggantikan sel-sel tubuh manusia dengan materi energi tinggi dengan meningkatkan moral manusia sesuai dengan karakter alam semesta.

Tidak ada seorangpun yang bisa meramalkan kapan tepatnya kiamat itu datang. Tapi dilain sisi, akan ada regenarasi suatu peradaban yang diramalkan para Orang Bangsa Maya ditahun 2012 nanti. Ini bukanlah suatu kehancuran Alam semesta secara keseluruhan (Jadi belum bisa diartikan kiamat yang sebenarnya), mungkin nantinya secuil para manusia-manusia yang terselamatkan dari bencana akan kembali membangun tonggak peradaban baru yang lebih baik dan lebih bermoral daripada kita.



Komentar Kamu
GravatarAssalamualaikum.
Dengan menyebut nama Allah, Maha Pengasih, lagi maha Penyayang.

janganlah berspekulasi tanpa pedoman yg benar, berspekulasi mendekati takabur.. sinkronkan segala sesuatu dg Al-qur'an.
kalau kita banyak bertanya cari dulu jawabanya dalam Al-qur'an. laksanakan perintah2, dan jauhi larangan2 yg ada pdnya jgn terlalu dipertanyakan, biasanya kalau banyak dipertanyakan yg menjawab orang terus ngaler ngidul nanti malah tersesat/disesatkan, dapat membuang waktu sia2 dan menyulitkan diri kita sendiri pada akhirnya. Just do it!

tertariklah pd Al-quran sbg pedoman cerah kita, bkn pd kitab abal2 ... bukan malah kita mempercayai kitab aliran lain, tp bagaimana supaya aliran lain tertarik, percaya, dan meyakini pd kitab yg benar yaitu Al-quran.. kitab yg tidak dibuat2 pastinya.

sudah jelas Al-quran dan Muhamad SAW adalah kombinasi repair akhlak, moral, dan kepercayaan abal2 kehidupan dunia sebelumnya, bangsa maya tentu exist pd jaman tebak2an, ramal2an+dukunnya (orang2 yg mayoritas blm mendapat hidayah/pegangan hidup/poor ) sebelum datangnya nabi penutup, dan smua itu diluruskan oleh Al-quran yg datangnya tidak tanggung2 langsung dr Allah yg Maha benar, Maha tahu, Maha besar.

maka kita yg msh benafas saat ini bersyukurlah, bisa membaca dan mengakaji Al-quran dg baik... serta yg paling utama dan sulit (karena godaan syetan) adalah mengamalkannya.

ayo ajak seluruh dunia baca Al-quran

sekali lg mulai dari kita sendiri baca dan amalkan ayat suci Al-quran, turuti jejak Muhamad SAW insya Allah berada di jalan yg lurus dan benar, serta di selamatkanNya, amin.

jika kita kembali mempercayai hal2/kitab2 di luaran, maka kita mengalami kemunduran menyianyiakan hal yg berharga...
saat seperti inilah gunanya Al-quran untuk me-reminder kita kalau ada hal2 yg ngaco
ini bkn masalah sebatas agama (islam) atau bukan tp ini masalah kebenaran dan keselamatan umat manusia tentunya, yg benar itu bukanlah manusia tidak ada manusia yg benar, kecuali Allah dan kitabNya, manusia hanya mengikuti^_^.
beruntunglah kalian yg beramal shaleh dan berkumpul dg orang2 shaleh. Wallohualam.

Peradilan Rakyat



Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***